SLIDE 1
 
 
1
2
Iklan_herbaVOMITZ
iklan_bjbsyariah
iklan_bnisyariah
iklan_hajimoelseafoodpusat
iklan_infaqcenter
iklan_majalahalbahjah
iklan_muamalat
 

6 Karakter Lebah yang Mengandung Hikmah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Friday, 30 December 2016 08:57

Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya)" (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Bazzar). Tentu, ada keistimewaan yang dimiliki hewan kecil bernama lebah ini hingga nabi menjadikannya inspirasi bagi seorang mukmin, bahkan Allah mengabadikan namanya pada salah satu surah ke-16 dalam Alquran, yakni an-Nahl.

Seorang mukmin haruslah memiliki sifat-sifat unggul dan istimewa dibandingkan dengan manusia lain. Kehadirannya selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Seperti dijelaskan Rasulullah SAW, "Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain." Perhatikan beberapa karakter lebah yang mengandung hikmah untuk diambil manfaat. Pertama, hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih. Lebah hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lain yang mengandung bahan madu atau nektar.
a-blue-banded-bee-hovers-above-a-pink-flower-_161118133425-244Begitulah pula sifat seorang mukmin, haruslah mencari dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di muka bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan (QS al-Baqarah [2]:168). Karena itu, jika mendapatkan amanah, dia akan menjaga dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi merupakan khabaits (kebusukan). Kedua, mengeluarkan yang bersih. Dari lebah yang dikeluarkan adalah madu yang menyehatkan bagi manusia. Dia produktif dengan kebaikan dibandingkan binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikkan. Seorang mukmin seyogianya produktif dengan kebajikan (QS al-Hajj [22]:77).

Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya bukan menyengsarakan orang lain, melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaatan manusia. Ketiga, tidak pernah merusak. Lebah biar bagaimanapun menambatkan diri di dahan. Dahan itu tidak rusak dan patah. Artinya, tidak merusak lingkungan hidupnya, padahal dia tidak punya akal. Manusia yang katanya punya akal justru berlomba-lomba merusak lingkungan hidupnya sendiri demi keserakahan diri sendiri dan keturunannya. Egoistis tidak memikirkan orang lain menderita nantinya atau tidak.
Keempat, bekerja keras.
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat "menetas"), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Seorang mukmin lebih dituntut bekerja keras dan semangat pantang kendur. Jika telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (QS as-Syarh [94]:7).
Kelima, bekerja secara kolektif dan tunduk pada satu pimpinan. Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya.

Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengundang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman yang diibaratkan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS ash-Shaff [61]:4)

Keenam, tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu. Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan "kehormatan" umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin harus memiliki solidaritas dan kepedulian empati terhadap sesamanya, dalam kondisi dan keadaan apa pun bagai satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Wallahu a'lam.

   

Wujud Kebaikan pada Kesulitan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Thursday, 22 December 2016 08:51

Seorang peneliti pernah melakukan percobaan. Ia ingin mengetahui respons katak terhadap suhu air. Percobaan dimulai dengan mempersiapkan dua ekor katak dan dua tungku elektrik yang di atasnya terdapat dua wadah yang berisi air. Katak yang pertama dimasukkan ke wadah yang berisi air bersuhu kamar. Pada suhu tersebut katak diam, tidak bergerak karena merasa nyaman. 
ind_0919

Setelah dibiarkan beberapa saat, air di wadah itu dinaikkan suhunya dua derajat Celcius. Karena kenaikan suhu sangat rendah, katak masih merasa nyaman sehingga tidak bergerak. Menaikkan suhu dua derajat Celcius terus diulang. Dan setiap kali suhu dinaikkan katak tetap tidak bergerak karena merasa nyaman. Sampai suhu air 100 derajat tetap saja katak tidak bergerak karena mati.

Berbeda dengan katak yang pertama, katak yang kedua dimasukkan ke wadah berisi air yang suhunya 100 derajat Celcius. Begitu dimasukkan, katak langsung loncat keluar wadah karena merasa sakit. Kita suka merasa galau jika dihadapkan pada kesulitan. 

Padahal, padanya terdapat kebaikan dalam bentuk kreativitas sebagaimana diperlihatkan oleh loncatan katak karena merasa sakit oleh panasnya air. Dan sebaliknya kita sering merasa nyaman dengan ketenangan padahal di balik itu terkadang sedang menanti lonceng kematian sebagaimana diperlihatkan oleh katak yang mati.

Sejatinya, kesulitan itu ada dua macam, yakni kesulitan yang sengaja dibuat bahkan direncanakan oleh kita dan kesulitan yang diberikan Allah SWT. Pada kedua kesulitan tersebut terdapat kemuliaan atau kebaikan. Kita suka membuat kesulitan karena yakin padanya terdapat kebaikan. Bekerja dan belajar, misalnya, merupakan aktivitas sulit. Namun, semuanya dilakukan dengan penuh kesenangan karena kita yakin pada keduanya terdapat banyak kebaikan.

Dengan bekerja, kita akan mendapatkan upah untuk menopang kehidupan. Sedangkan, dengan belajar, kita akan mendapatkan ilmu. Bertambahnya ilmu tidak hanya akan mendatangkan kebaikan dunia tetapi juga kebaikan akhirat. Sebagimana firman-Nya “... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujadalah: 11).

Kebaikan yang sama terdapat pada kesulitan yang diberikan Allah SWT. Di dalam Alquran, kesulitan jenis ini biasa disebut ujian (fitnah) atau mushibah. Mengenai kebaikan ujian (fitnah) ditegaskan oleh Alquran sebagai instrumen untuk menaikkan kualitas keimanan. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut:2).

Pada musibah pun terdapat kebaikan sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan, Allah akan menimpakan kepadanya musibah. (HR Imam al-Bukhari). Secara terperinci dijelaskan dalam hadis lain bahwa kesulitan merupakan instrumen penghapus dosa, “Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau penyakit atau risau pikiran atau sedih hati sampai jika terkena duri melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penghapus dosanya oleh Allah.” (HR Bukhari-Muslim).

Jadi, kita tidak boleh galau jika dihadapkan pada kesulitan karena padanya terdapat kebaikan dan kemuliaan. Bahkan, kalau perlu kesulitan harus direncanakan supaya hidup lebih baik dan mulia. Wallahu alam.

   

Lelaki anshar dengan tiga anak panah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 20 December 2016 08:32

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, dia berkata, “Dalam suatu peperangan kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju salah satu daerah orang musyrik. Kami berhasil menawan istri salah seorang di antara mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali.spa_1203-2

Tidak lama kemudian, suami perempuan tersebut datang, kemudian diceritakan kepadanya tentang keadaan yang terjadi. Suaminya bersumpah, bahwa ia tidak akan pulang ke rumah sehingga dapat melukai para sahabat Nabi.

Ketika Rasulullah sedang dalam sebuah perjalanan, beliau berhenti di suatu perkampungan lalu bertanya, ‘Siapakah dua orang di antara kalian yang bersedia agar nanti malam menjaga kami dari serangan musuh?’ Seorang lelaki dari kaum Muhajirin dan seorang lelaki dari Anshar menjawab, ‘Kami berdua akan menjaga engkau, wahai Rasulullah.’



Dua orang lelaki tersebut berangkat menuju mulut gang perkampungan tanpa disertai seorang pengawal pun.

Lelaki Anshar bertanya kepada lelaki Muhajirin, ‘Kamu dulu yang akan berjaga lalu aku ataukah aku dulu lalu kamu?’

Lelaki Muhajirin menjawab, ‘Kamu dulu saja. Aku belakangan.’

Lalu lelaki Muhajirin tidur, sedangkan lelaki Anshar mulai berdiri untuk qiyamullail, ia membaca ayat-ayat Al-Quran.

Di tengah-tengah membaca ayat Al-Quran di dalam qiyamullail itu, suami perempuan musyrik tersebut datang. Ketika ia melihat ada seorang lelaki yang sedang berdiri (tidak tidur), ia menyangka pasti dia pemimpin mereka. Lalu, dengan cepat ia mengambil panah dan melepaskan ke arah lelaki yang sedang shalat hingga mengenainya. Lelaki Anshar itu mencabutnya dan dia tidak bergeser sedikit pun, karena tidak ingin memutus bacaan Al-Qurannya.

Lalu suami perempuan musyrik itu mengambil satu panah lagi dan dibidikkannya ke arah lelaki Anhsar, tetapi ia kembali mencabutnya tanpa memutuskan shalatnya dan bacaan al-Qurannya. Suami perempuan musyrik itu mengulangi, untuk yang ketiga kalinya, melepas panah ke arah lelaki yang sedang berdiri melaksanakan qiyamullail. Ia kembali mencabut anak panah, meletakkannya dan melanjutkannya dengan rukuk dan sujud. Seusai shalat, lelaki Anshar itu membangunkan lelaki Muhajirin yang sedang tidur sambil berkata, ‘Bangun!, sekarang tiba giliranmu.’ Kemudian lelaki Muhajirin bangun dan duduk.

Ketika suami perempuan musyrik melihat ada dua orang berjaga, yang satu menolong kawannya, ia mengetahui bahwa nazarnya telah terpenuhi.

Ternyata, dari tubuh lelaki Anshar itu mengalir darah karena terkena panah suami perempuan musyrik tadi.

Lelaki Muhajirin berkata kepada kawannya, ‘Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosamu, mengapa kamu tidak memberi tahu aku pada saat panah pertama mengenai tubuhmu?’

Lelaki Anshar menjawab, ‘Ketika itu, aku tengah membaca salah satu surat Al-Quran dalam qiyamullail-ku. Aku enggan menghentikan bacaanku. Dan demi Allah, sekiranya aku bergeser, berusaha meninggalkan benteng pertahanan yang Rasulullah memerintahkan agar dijaga, pastilah aku binasa sebelum aku menghentikan bacaan Al-Quranku tadi.'” (Shifatush Shofwah, 1/773). (arrahmah.com)

   

Hakikat kesulitan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Thursday, 15 December 2016 06:29

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menyaksikan dua orang yang dihadapkan pada dua kesulitan yang sama namun respons dan efeknya berbeda.

Misalnya, ada dua orang yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Yang satu merespons kejadian tersebut dengan sikap positif sehingga hilangnya pekerjaan tidak menjadikannya terpuruk malah menjadikannya semakin maju. 

Baginya kehilangan pekerjaan bukan kiamat, tapi awal keluar dari zona nyaman dan rutinitas menuju zona penuh tantangan dan kemuliaan. Namun, orang yang satunya lagi merespons peristiwa tersebut dengan sikap negatif dan pesimis. 

Kehilangan pekerjaan dianggap sebagai awal kehilangan segalanya. Akibatnya hidupnya menjadi lebih terpuruk. Lantas, apa hakikat kesulitan itu? Mengapa dua orang yang berbeda merespon satu kesulitan yang sama dengan cara yang berbeda? 

Menurut Alquran, kesulitan atau kesusahan merupakan bagian hidup manusia. Siapapun kita sepanjang masih berstatus manusia pasti pernah, sedang, dan akan mendapat kesulitan. Hal tersebut ditegaskan oleh ayat, ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS al-Balad: 4). 

Alquran menyebut kesulitan (susah payah) dengan kata kabad. Kata kabad sendiri seakar kata dengan kabid yang berarti  hati. Jadi, ketika Alquran menyebut kesulitan dengan kata kabad, itu mengisyaratkan bahwa kesusahan dan kesenangan salah satunya ditentukan oleh kondisi hati. 

Hati yang bersih, lapang dan penuh optimisme akan mengubah kesulitan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Sebaliknya, hati yang kotor, picik, dan penuh pesimisme tidak hanya akan menyebabkan kesulitan menjadi beban, bahkan kenikmatan pun bisa menjadi kutukan. 

Kondisi hati inilah yang dapat menjelaskan perbedaan respons dari dua orang yang dihadapkan pada kesulitan yang sama. Jadi, kesulitan tidak selamanya ada pada obyek yang kita hadapi. Kesulitan lebih banyak ditentukan oleh hati dan pikiran kita. Dengan kata lain sulit dan mudah, susah dan senang adanya di dalam hati dan pikiran tidak selamanya pada obyek di luar diri kita. 

Sesulit apapun persoalan yang kita hadapi, jika diterima dengan hati bersih penuh dengan keikhlasan dan ketawakalan, semuanya akan berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Dan semudah apapun persoalan yang kita hadapi jika diterima dengan hati yang sempit akan berubah menjadi beban yang sangat berat. 
bou_194

Nabi Muhammad SAW menyebut hati yang baik adalah hati yang dipenuhi dengan keimanan. Dan orang yang hatinya dipenuhi dengan keimanan akan melihat segala peristiwa yang menimpa pada dirinya dari sisi positif.

Ia menganggap semua peristiwa mengandung kebaikan. Oleh karena itu, ia akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa kesusahan. Baginya susah dan senang sama saja sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah SWT.

Berkaitan dengan hal tersebut, Nabi SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” ( HR Muslim).

   

Sejarah Madinah dan Keistimewaannya

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 06 December 2016 08:07

Dikutip REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Madinah, selain Makkah sangat istimewa umat Islam di dunia. Madinah dikenal sebagai tanah Haram (tanah Suci) seperti kota Makkah.

400px-kota_madinah_1Di kedua kota suci ini dilarang melakukan segala hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, Diantara larangan itu, antara lain tidak diperbolehkannya melakukan perburuan pada binatang, menebang pohon, merusak lingkungan jugaperkelahian apalagi sampai terjadi pertumpahan darah.

Selain itu, kedua kota ini adalah tempat yang paling aman di tempati segala makhluk hidup. Sesuai dengan hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a  :

“sesungguhnya iman itu akan kembali ke Madinag sebagaimana ular kembali ke lubangnya”

Serta hadist lain yang diriwayatkan Abu Hurauirah r.a : Rasul bersabda “Pada jalan-jalan masuk menuju Madinah terdapat para malaikat (yang menjaga) sehingga wabah penyakit dan Dajjal tidak bisa melaluinya”. 

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ziad, Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan kota Makkah sebagai tanah Haram dan berdoa (meminta keberkahan) bagi kota Makkah. Dan aku (Rasulullah) menjadikan kota Madinah sebagai tanah Haram sebagaimana Ibrahim menjadikan Makkah sebagai tanah Haram. Aku mendo’akan barokah atas kota Madinah pada mudnya dan sha’nya seperti doa Ibrahim bagi Makkah”.

Madinah adalah kota yang disebut dengan Madinah Al-Munawarah yang berarti kota yang bersinar. Kata Madinah merupakan kata benda yang menunjukan tempat yang dibangun peradaban di atasnya.  
Madinah adalah nama yang diberikan Rasulullah setelah hijrah dari Makkah karena sebelum menjadi Madinah, kota ini bernama Yastrib dan nama itu diberikan oleh orang-orang Jahiliyah. Dahulu kota ini dibangun oleh seseorang yang bernama Yastrib dia adalah salah satu keturunan dari Nabi Nuh. Yastrib memimpin sebuah kabilah yang bernama A’bil,

Pada waktu yang bersamaan banyak sekali orang dan kelompok yang berdatangan ke kota Madinah Munawarah, diantaranya bangsa A’maliq yang mendirikan perkebunan dan berhasil menjalankan pembangunan di kota Madinah.

Selain itu, Madinah memiliki beberapa nama yang menunjukan bahwa kota ini memiliki derajat yang sangat tinggi, dalam beberapa penelitian yang dilakukan para sejarawan, nama-nama kota Madinah mencapai seratus nama.

Namun, dalam hadist shahih hanya ditemukan enam nama yaitu, Yatsrib, Al-Madinah dikenal setelah hijrahnya Rasulullah. Thobah atau Tahibah nama ini diberikan Rasulullah karena pada masa itu sudah mulai banyak orang yang mengikuti jejak dan ajaran agama Allah, Ad-Dar dan Iman.

Perubahan nama Yastrib menjadi Madinah dilakukan oleh Rasulullah setelah beliau hijrah dari Makkah ke Yastrib, dan saat itulah langkah awal terbentuknya Daulah Islamiyah pertama di muka bumi ini. persitiwa hijrah ini juga memberikan keterangan atas berdirinya Negara Islam yang dipimpin Rasulullah dengan sistem yang beliau bangun dengan syarat-syarat minimal untuk disebut sebagai negara. 

Jarak antara Makkah dan Madinah 425 km. Madinah terletak di tengah-tengah tanah yang subur.

Di sebelah Barat Laut terdapat pemandangan Bukit sila’ dan di Selatan ada Jabal ‘Eir dan Wadi “Aqiq. Jabal Uhud, Jabal Tsur dan Wadi Qanaf menjadi satu kawasan tanah hitam (Waqim Asy-Syarqiyyah) dan Harrah Wabrah Al-Gharbiyah terletak di sebelah Barat kota Madinah.

Beberapa abad sebelum Masehi terdapat beberapa kerajaan yang berada dibawah kekuasaan Madinah yaitu kerajaan Ma’niyin, Saba’iyin, dan Kaldaniyin. Ketiga kerajaan itulah yang memicu perubahan besar dan perkembangan Madinah.

Pada tahun 132 M tiga kabilah yaitu kabilah Bani Quraizah, Bani Nazhir dan Bani Qainuqa datang ke kota Madinah, mereka banyak melakukan aktifitas di perekebunan karena mereka sangat ahli dalam bidang tersebut. Dengan keahlian itu mereka memproduksi dan mengelola hasil perkebunan dengan baik. 

Ketika bendungan Ma’arib di negeri Yaman runtuh, kabilah Aus dan Khadraj mengungsi ke Madinah, pada saat yang bersamaan ornag-ornag yahudi membutuhkan pekerja-pekerja yang memiliki keuletan dan mereka memperkerjakan Kabilah Aus dan Khadraj di perkebunan yang mereka miliki.

Seiring berjalannya waktu kondisi kaum Aus dan Khadraj semakin membaik dan ini menumbuhkan ketakutan kaum Yahudi, karena mereka takut disaingi oleh kaum Aus dan Khadraj kemudian terjadilah pertikaian antara dua kubu. Para tokoh dari masing-masing sepakat untuk mengadakan perjanjian bahwa kedua belah pihak dapat hidup dengan damai dan bersatu membela kota Madinah apabila ada penyerangan dari kota lain.

Namun perjanjian ini tidak berlangsung lama. Orang-orang Yahudi melanggar perjanjian tersebut dan mereka berusaha menjatuhkan kaum Aus dan Khadraj.

Kaum Yahudi melakukan pembunuhan terhadap beberapa kaum Aus dan Khadraj, kejadian ini mendorong kaum Aus dan Khadraj meminta bantuan kepada kaum Ghassasinah yang berada di Syam. Ghasasinah bergegas membantu kaum Aus dan Khadraj  dengan mengirim pasukan untuk melawan kaum Yahudi agar dapat mematahkan kekuaatan Yahudi.

Pada akhirnya, kedua belah pihak kembali melakukan kesepakatan perdamaian tapi itu pun tidak berlangsung lama, Yahudi kembali memfitanh dan menyulutkan api peperangan kepada kaum Aus dan Khadraj.

 

 

   

Sang Raja yang Sakit

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Thursday, 01 December 2016 09:48

DIkutip dari http://www.eramuslim.com - Pada suatu kesempatan ketika sedang Jum’atan, seorang Ustadz bercerita dialog antara Malaikat dan Allah. Dialog terjadi berawal dari keputusan Allah yang membuat Malaikat menjadi bertanya-tanya…?  Masalahnya perihal ada seorang raja yang sholeh terlihat nasibnya kurang baik. Tetapi di daerah lain ada seorang raja yang dzolim, nasibnya lebih baik dari pada raja yang sholeh tadi.

Kisahnya begini.  Pada suatu ketika raja yang sholeh menderita sakit keras dan untuk bisa sembuh, seorang tabib mengatakan agar raja itu memakan ikan tertentu.bukan ikan yang biasa, masalahnya ketika ikan itu dicari.. Ternyata saat itu ikan tidak dapat ditemukan. Padahal seharusnya pada saat itu biasanya ikan sejenis itu banyak bermunculan..Tapi berhubung Allah berkehendak lain, ikan tersebut tidak muncul-muncul, akhirnya wafatlah sang raja yang sholeh itu karena tidak mendapat obat.

Namun, sebaliknya di negara lain ada raja juga mengidap sakit yang sama seperti raja sebelumnya, tapi raja yang satu ini bukan raja yang sholeh, melainkan raja yang dzolim. Lalu sang tabib pun menyarankan untuk memakan ikan yang sama sebagai obatnya. Tapi anehnya saat itu di mana ikan-ikan itu biasanya tidak bermunculan, tapi Alloh berkehendak lain..ikan-ikan itu pun bermunculan dan akhirnya sembuhlah si raja dzolim itu.

Dengan kejadian itu, Malaikat pun jadi bertanya-tanya…dan saking penasarannya, bertanyalah malaikat pada Allah ” Ya Allah, kenapa raja yang dzolim itu Kau permudah urusannya, sedang raja yang sholeh itu Kau persulit hingga akhirnya dia meninggal dunia?” Lalu Allah menjelaskan “Sengaja Aku tidak memberi ikan pada raja yang sholeh untuk kesembuhannya dan Aku putuskan dia meninggal dunia, karena dengan begitu wafatnya dia Ku-anggap sebagai penggugur dosanya dari kesalahan yang pernah dia lakukan di dunia. Sehingga dia meninggal dunia tidak membawa dosa, melainkan membawa amal-amal sholeh. Karena keburukannya telah kubalas di dunia.”

Malaikat melanjutkan pertanyaannya, lalu bagaimana dengan raja yang dzolim itu ya Allah? Allah pun menjelaskannya kembali “Sebaliknya untuk raja yang dzolim itu sengaja Kuberi dia kesembuhan, karena walau gimana raja yang dzolim itu mempunyai kebaikan juga di dunia dan kebaikannya Kubalas di Dunia. Sehingga pada saatnya dia nanti meninggal dunia,  dia tidak akan membawa amal kebaikan, melainkan yang diamembawa hanya amal buruk karena kebaikan-kebaikannya sudah Kubalas di dunia.

padangpasirDari cerita di atas saya berfikir setidaknya kita mendapat pencerahan mengenai suatu dugaan yang salah dari peristiwa yang kita lihat atau yang kita alami sendiri, dugaan yang membuat kita bertanya-tanya kenapa Alloh berlaku tidak menguntungkan padaku padahal aku sudah ibadah…?! dan kita juga pernah melihat ada beberapa orang yang baik (sholeh/sholeha)tapi mereka dapat ujian juga tertimpa bencana alam atau musibah lain berupa sakit keras, kehilangan harta dan ada juga orang yang kecelakaan sampai cacat kehilangan anggota tubuhnya dan ada beberapa musibah lainnya.

Di sisi lain kita kadang sempat iri melihat orang yang ibadahnya biasa-biasa atau bahkan tidak ibadah sama sekali tapi kehidupannya makmur, sampai ada yang bergelimang harta, lalu kembali lagi kita menduga-duga, kenapa Alloh berlaku demikian…??? Jawabannya: Biar lah Allah berlaku sesuka-Nya pada kita dan pada hamba-hamba-Nya yang lain, karena Dia lah (Tuhan) Sang Pemilik Alam beserta isinya dan yang Maha Mengetahui apa yang akan diperbuat-Nya, kita sebagai manusia teruslah Ikhtiar dan meningkatkan ibadah tanpa harus mendikte Allah, keikhlasan kita dalam menerima segala ketentuan dari Allah, itu lah sesuatu yang teramat penting sekali! karena bila kita ridho terhadap ketentuan Allah, Allah pun akan memberikan ridho-Nya pada kita, sehingga kita akan mendapat rahmat-nya dijauhkan dari siksa api neraka yang amat pedih.

Mengenai musibah yang terjadi/menimpa, seperti itu tadi ikhlaskan saja, Insya Allah itu akan menjadi penggugur dosa yang nantinya akan mengurangi timbangan dosa di akherat dan akan memberatkan timbangan amal baik, seperti kisah raja yang sholeh di atas, dia tidak mendapat kebaikan di dunia, tapi Allah memberikan kebaikan untuknya di akherat, subhanallah.

Surat al-Baqarah : Ayat: 216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Wallahu’alam bish shawab.

   

Memaafkan Itu Lebih Indah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Wednesday, 30 November 2016 09:32

Maaf dan memaafkan adalah persoalan yanilustrasi-_120815204904-516_220x147g kadang susah sekali dilakukan. Apalagi bila sudah berada di posisi mampu untuk melakukan balas dendam. Hanya orang-orang berhati mulialah yang bisa melakukannya. Memaafkan adalah salah satu sifat Allah yang harus kita pakai di kala ada permasalahan dengan sesama. Karena yang namanya hidup bermasyarakat, gesekan dan konflik pasti selalu ada. Di situlah memaafkan menjadi salah satu solusinya.
Memaafkan nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apabila ada orang yang menzalimi, memfitnah, mencelakai, atau menuduh kita dengan sewenang-wenang, apakah kita akan langsung memaafkan orang tersebut? Belum tentu. Bahkan, bisa jadi kita akan melakukan hal yang sama kepada orang tersebut jika kita tidak berpikir rasional. Orang yang gemar memaafkan adalah mereka yang hatinya lapang, mulia, dan lembut. Mereka memaafkan semata-mata karena Allah SWT. Tidak ada permusuhan apapun di hatinya.

Kebeningan dan cahaya ilahi selalu hinggap di hatinya. Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi, “Nabi Musa telah bertanya kepada Allah, ‘Ya Rabbi! Siapakah di antara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu?’ Allah menjawab, ‘Ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan.’” (Hadis Qudsi Riwayat Kharaithi dari Abu Hurairah). Karena memaafkan, seorang hamba akan mendapatkan kemuliaan tak terhingga di sisi Allah. Derajatnya lebih tinggi dan lebih agung dibandingkan orang-orang yang di hatinya menyimpan dendam. Allah SWT berfirman, “Maafkanlah dan ampunilah mereka.

Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Ma’idah [5]: 13). Pada Perang Uhud Rasulullah SAW mendapatkan luka cukup serius di wajah dan beberapa giginya patah. Melihat kejadian memilukan ini, salah seorang sahabatnya berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah mereka agar celaka!” Beliau menjawab, “Aku sekali-kali tidak diutus untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat.” Lalu Rasulullah SAW menengadahkan tangannya kepada Allah SWT seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” Sungguh, perbuatan mulia nan agung. Rasulullah SAW tidak membalas dendam, tapi memaafkan mereka dengan kasih sayang. Bahkan, beliau malah mendoakannya agar Allah mengampuni mereka.

Suatu ketika, orang kafir bernama Du’tsur mendapati Rasulullah SAW sedang istirahat di bawah pohon rindang. Kafir itu segera mengambil pedang Rasulullah SAW dan menghunuskannya sembari mengancam.
“Siapakah yang dapat membelamu dari situasi ini?” Dengan tegas Rasulullah SAW menjawab, Allah. Mendengar jawab beliau, Du’tsur gemetar dan pedangnyapun jatuh.
Rasul segera mengambil pedang itu dan berbalik mengancam Du’tsur seraya berkata, “Siapakah yang akan membelamu saat ini?”
Du’tsur menjawab, “Tidak ada seorang pun!”
Apa yang terjadi kemudian? Ternyata, Rasulullah SAW memaafkan dan membebaskan orang bernama Du’tsur yang tadi mengancamnya.
Akhirnya, Du’tsur pun berdakwah mengajak kaumnya memeluk agama Allah.
Semoga Allah menggolongkan kita ke dalam kelompok orang yang arif dan gemar memaafkan.
Akan tetapi, bukan berarti tidak tegas dalam membedakan mana yang haq dan bathil. Wallahu a’lam.
Dikutip dari http://www.republika.co.id/ 

   

Menjaga Perasaan Rakyat

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 29 November 2016 05:49

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Moch Hisyam

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khaththab RA kedatangan tamu dari Azerbaijan. Tamu tersebut adalah utusan dari wali kota Azerbaijan. Tepat waktu menjelang fajar, Umar RA mengajak sang tamu singgah ke rumahnya. Pada saat itu, Umar berkata kepada istrinya, "Wahai Ummu Kultsum, suguhkan makanan yang ada. Kita kedatangan tamu jauh dari Azerbaijan."
Umar bin Khattab
Mendengar perintah suami, jawaban jujur keluar dari mulut istri Umar RA. "Kita tidak mempunyai makanan, kecuali roti dan garam,"jawab istri Umar. "Tidak mengapa," kata Umar. Akhirnya mereka berdua makan roti dan garam.

Sang tamu pun menyampaikan alasannya mendatangi Umar. "Wali kota Azerbaijan menyuruhku menyampaikan hadiah ini untuk Amirul Mukminin," kata utusan Azerbaijan seusai makan, sembari menunjukkan sebuah bungkusan. "Bukalah bungkusan itu dan lihat apa isinya!" perintah Amirul Mukminin.

Setelah dibuka, bungkusan itu ternyata berisi gula-gula, "Ini adalah gula-gula khusus buatan Azerbaijan," sang tamu menjelaskan. "Apakah semua kaum Muslimin (rakyat) di sana juga mendapatkan kiriman gula-gula ini?" kata Umar. Dan langsung sang utusan menjawab, "Oh tidak! gula-gula ini khusus untuk Amirul Mukminin."

Mendengar jawaban itu, wajah Umar tampak kelihatan marah. Segera ia memerintahkan utusan Azerbaijan itu untuk membawa gula-gula tersebut ke masjid dan membagi-bagikannya kepada fakir miskin. "Barang ini haram masuk ke dalam perutku, kecuali jika kaum Muslimin memakannya juga," kata Umar.

"Dan engkau cepatlah kembali ke Azerbaijan. Sampaikan kepada yang mengutusmu (wali kota Azerbaijan) bahwa jika ia mengulangi peristiwa ini kembali, aku akan memecat dia dari jabatannya!"

Kisah di atas menggambarkan betapa sederhananya Umar RA, sekaligus menunjukkan kepada kita betapa Amirul Mukminin sangat menjaga perasaan rakyatnya. Bagaimana ia bisa menikmati sendirian hadiah dari wali kota Azerbaijan, sementara rakyat yang dipimpinnya tidak mendapatkan bagian?

Menjaga perasaan rakyat merupakan bagian penting yang harus dilakukan seorang pemimpin. Apalagi, jika kepemimpinan yang diraihnya itu atas pilihan rakyat dan mendapatkan gaji dari uang rakyat. Maka ia harus benar-benar menjaga perasaan rakyatnya.

Ketika seorang pemimpin mampu menjaga perasaan rakyatnya maka akan banyak hal positif tercipta di tengah masyarakat. Di antaranya, terwujudnya kedamaian, terbinanya persatuan rakyat, dan kemakmuran yang akan dirasakan oleh semua rakyatnya.

Wujud dari pemimpin yang menjaga perasaan rakyatnya terlihat dari kesederhanaan, keadilan, dan sikapnya yang apresiatif terhadap keinginan rakyatnya. Karena, tidak mungkin seseorang pemimpin yang menjaga perasaan rakyatnya hidup mewah sementara rakyatnya miskin, bersikap zalim, dan tidak mengacuhkan aspirasi dari rakyatnya.

Semoga para pemimpin bangsa ini memiliki kepekaan dan mampu menjaga perasaan rakyatnya. Sehingga, potensi perpecahan dan kegaduhan yang mengancam bangsa ini bisa diredam dan diatasi dengan keadilan dan sikap gigih dalam memperjuangkan aspirasi rakyatnya. Amin. Wallahu a'lam. 

   

Kedudukan Rakyat di Mata Umar bin Khathab

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Sunday, 27 November 2016 06:17

Diantara kedudukan rakyat di mata Umar sebagai sarana evaluasi diri. Kedua, sebagai satandar kesuksesan pemimpin di dunia dan akhirat
umar-bin-khattab_kuda-31v0fpg2ortvb366in9hj4
SOSOK Umar bin Khatab, di sepanjang sejarah, selalu menyimpan keteladanan yang patut ditiru. Dalam hal interaksi antara pemimpin dan rakyat misalnya, kisah-kisah berikut menunjukkan secara jelas bagaimana kedudukan rakyat di mata sahabat yang berjuluk al-Fârûq (pembeda antara yang haq dan batil) ini.

Sebagai pemimpin, ayah dari Hafshah ini, memosisikan rakyat sebagai sarana  untuk evaluasi diri. Saat Aslam menawarkan diri untuk membantu mengangkat bahan baku makanan untuk ibu dan anak yang kelaparan di malam hari, dengan tegas ditolak langsung oleh Umar, “Apakah kamu mau menanggung dosaku kelak di hari kiamat?”(Mahdhu al-Shawâb fî Fadhâili `Umar bin al-Khatthâb, 361).

Pada peristiwa ini, Umar menjadikan rakyatnya sebagai bahan evaluasi diri. Bila ada rakyatnya yang kesusahan, maka yang patut disalahukuman adalah dirinya sendiri, dia tidak mencari ‘kambing hitam’, bahukuman ia pulalah yang harus bertanggung jawab memecahukuman persoalan. Maka tidak mengherankan jika ia menolak tawaran Aslam, karena rakyat dijadikan sebagai cermin diri.

Sisi menarik lain yang tidak kalah penting terkait posisi rakyat di mata Umar, tidak seperti penguasa-penguasa dunia di zamannya, Khalifah Kedua ini memiliki pandangan unik mengenai standar kesuksesan. Bagi beliau, seorang pemimpin bisa disebut sukses jika tidak menyia-nyiakan atau menelantarkan rakyatnya.

Saat Mu`awiyah bin Khudaij menganggap Umar tidur siang (qailulah), belia pun merespon dengan tegas, “Jika aku tidur di siang hari, maka aku akan menyia-nyiakan rakyatku. Jika aku tidur di malam hari maka aku menyia-nyiakan diriku (karena tidak bisa bermunajat dengan Allah), maka bagai mana mungkin aku bisa tidur di kedua waktu ini wahai Muawiyah?”(Ahmad bin Hanbal,  al-Zuhd, 152).

Doa Umar berikut juga bisa menjadi bukti bahwa beliau tidak ingin menyia-nyiakan rakyatnya sedikit pun, “Ya Allah aku sudah tua, kekuatanku menurun, wakyatku semakin banyak, matikanlah aku dalam kondisi tidak menyianyiakan dan menelantarkan rakyat.”(At-Thabaqât, 3/324-330).

Tak hanya itu, rakyat dijadikan bagian yang intim di masa kepemimpinannya. Ibnu Jauzi mengatakan dalam Kitab Manâqib (66,67) bagaimana keintiman Umar dengan rakyatnya, “Rakyat mendengar dengan baik perkataannya, mengetahui amalnya. Bahkan beliau tidak malu bergumul di pasar bersama mereka, menyelesaikan persoalan dengan baik di antara mereka.” Pada beberapa riwayat dijelaskan bahwa sebagian malam harinya banyak digunakan untuk memantau secara langsung kondisi rakyatnya yang di masa ini dikenal dengan istilah blusukan. Tapi, tidak untuk mencari citra, karena siapa yang mau mencari citra di malam hari yang sepi?

Pada suatu malam Thalhah bin Ubaidillah membuntuti Umar. Dari kejauhan, beliau terlihat sedang mendatangi rumah satu ke rumah lainnya. Di pagi hari, Thalhah bin Ubaidillah mendatangi  rumah tersebut. Ternyata di dalamnya ada seorang kakek tua renta buta yang sedang berbaring. Ketika ditanya perihal apa yang dilakukan Umar, kakek itu menjawab bahwa Umar sedang memenuhi kebutuhan serta menghilangkan kesusahannya (al-Hadâiq, 364). Pemimpin yang tidak memiliki hubungan intim dengan rakyat, tidak akan mungkin melakukan pekerjaan yang sangat sulit ini, kecuali dalam konteks pencitraan.

Di lain waktu, rakyat dijadikan Umar sebagai korektor bagi kekhilafannya. Pernah di muka umum, sahabat yang terkenal dengan keadilannya ini berpidato, “Wahai takyatku siapa saja di antara kalian yang melihat kekhilafan dariku, maka segera luruskan.” Saat itu juga berdirilah seseorang berkomentar, “Jika kami melihat kebengkokan(kesalahan) darimu, maka akan kami luruskan dengan pedang kami.” Umar pun berkomentar, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan pada umat ini orang yang meluruskan kesalahan Umar dengan pedangnya.”(al-Riyâdh al-Nadhrah, 2/381).

Yang tidak kalah penting, rakyat oleh Umar bin Khatab dijadikan sebagai mitra terbaik untuk bersama-sama memproduksi amal kebaikan. Kalau kita melihat kepemimpinannya, adalah cerminan riil dari firman Allah:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ ٩٦

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahukuman kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”(QS. Al-A`raf[7]: 96).

Mereka kompak dalam beriman dan bertakwa, sehingga wajar jika dibukakan berkah dari langit dan bumi. Pada zamannya, wilayah Islam sedemikian luas, keadilan merata, kemakmuranpun menyebar ke penjuru negeri.

Dari pemaparan singkat ini, dapat disimpulkan, di antara kedudukan rakyat di mata Umar adalah sebagai berikut. Pertama, sebagai sarana evaluasi diri. Kedua, sebagai satandar kesuksesan pemimpin di dunia dan akhirat. Ketiga, sebagai bagian yang intim dari dirinya. Keempat, sebagai korektor bagi kesalahan diri. Kelima, sebagai mitra terbaik dalam memproduksi amal kebaikan.

Sebagai penutup, komentar Hurmuzan [Raja Khurasan] bisa dijadikan pelajaran ketika melihat Umar tertidur di masjid –sebagai gambaran bagaimana posisi Umar dengan rakyatnya-, “Engkau telah berbuat adil(kepada rakyatmu) sehingga engkau bisa tidur.” (al-Tarâtîb al-Idâriyah, 2/250). Wallâhu a`lam bi al-Shawâb.* /Mahmud Budi Setiawan

(dikutip dari Hidayatullah.com)

   

Page 2 of 3